Jumat, 24 Februari 2012

PROPOSAL PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK LINGKARAN KECIL LINGKARAN BESAR UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA SDN 007 MUKTIJAYA


A. JUDUL PENELITIAN

     PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK   LINGKARAN KECIL LINGKARAN BESAR UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SDN 007 MUKTIJAYA

B. BIDANG ILMU  :   PENDIDIKAN MATEMATIKA

C. PENDAHULUAN
Matematika merupakan ilmu yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan mengembangkan daya pikir manusia. Matematika membekali peserta didik untuk mempunyai kemampuan berfikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Oleh sebab itu, pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik di mulai dari sekolah dasar (Depdiknas, 2006)
Hal ini sejalan dengan tujuan pembelajaran matematika agar peserta didik memiliki kemampuan, yaitu (1) memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah; (2) menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; (3) memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh; (4) mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; (5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, prihatin, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah(Depdiknas, 2006).
Dari tujuan pembelajaran matematika di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika melatih siswa untuk mengembangkan kemampuan dalam menarik kesimpulan, kreatif, mampu menyelesaikan masalah, dan pembentukan keterampilan matematika untuk mengubah tingkah laku siswa. Hasil belajar dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan efektif tidaknya suatu proses pembelajaran (Sudjana, 2000). Salah satu indikator keberhasilan siswa menguasai matematika dilihat pada hasil belajar matematika yang diperoleh siswa. Hasil belajar yang diharapkan setiap sekolah adalah hasil belajar matematika tinggi dan mencapai ketuntasan belajar matematika. Ketuntasan tersebut dapat dilihat dari skor hasil belajar yang diperoleh setelah mengikuti proses belajar matematika. Siswa dikatakan tuntas apabila skor hasil belajar matematika siswa mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (Depdiknas, 2006).
Memahami tujuan matematika yang telah dikemukakan sebelumnya, maka sudah sewajarnyalah pelajaran matematika seharusnya disenangi oleh siswa yang diwujudkan dengan hasil belajar yang lebih baik. Namun kenyataan di lapangan harapan tersebut berkebalikan, hasil belajar matematika siswa  kelas V SDN 007 Muktijaya masih rendah. Hal ini didasarkan dari persentase jumlah siswa yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditetapkan sekolah yaitu 60. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1 : Persentase dari 36 siswa yang mencapai KKM kelas V SDN 007 Muktijaya tahun pelajaran 2010/ 2011.

No
Materi Pokok
KKM
Jumlah Siswa Mencapai KKM
Presentase Siswa Mencapai KKM
1
Operasi hitung bilangan bulat
60
17
47,2 %
2
KPK dan FPB
60
20
 56,3 %
3
Pengukuran waktu
60
25
69,4 %
4
Luas bangun datar
60
20
56,3 %
5
Volume bangun ruang
60
18
50.00%

Dari tabel diatas terlihat bahwa jumlah siswa yang mencapai KKM yang ditetapkan sekolah belum memuaskan.
            Rendahnya hasil belajar matematika siswa di kelas V SDN 007 Muktijaya  pada semester ganjil tahun pelajaran 2010/2011 dikarenakan dalam proses pembelajaran matematika selama ini masih ditekankan pada metode ekspositori yaitu guru berceramah dan bertanya jawab dengan siswa. Hal ini mengakibatkan hanya siswa-siswa yang unggul saja yang aktif dalam proses pembelajaran, sedangkan siswa yang lemah  kurang terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan ini juga mengakibatkan siswa yang lemah malu untuk bertanya kepada guru, terjadinya siswa yang pasif didalam kelas dan kurangnya interaksi antar siswa sehingga pembelajaran yang berlangsung kurang aktif.
Usaha yang dilakukan peneliti untuk menanggulangi hal tersebut yaitu dengan mengadakan perbaikan, baik dalam membuat persiapan mengajar maupun dalam proses pembelajaran yaitu dengan menerapkan pembelajaran kelompok. Dengan tujuan semua siswa ikut aktif dalam proses pembelajaran dan dapat saling bekerja sama antara satu dengan yang lainnya. Pada pembelajaran kelompok ini dibentuk kelompok heterogen berdasarkan kemampuan akademis siswa yang terdiri dari siswa yang berkemampuan akademis rendah, tinggi dan sedang. Pada saat diskusi kelompok tidak semua anggota kelompok ikut aktif, masih banyak siswa yang hanya menunggu hasil kerja dari dari teman dalam kelompoknya tanpa berusaha terlebih dahulu. sehingga usaha ini juga belum menunjukkan peningkatan hasil belajar matematika.
Mengingat berbagai usaha yang dilakuakan belum membuahkan hasil maka peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran kooperatif teknik lingkaran kecil lingkaran besar. Karena penerapan model pembelajaran ini memiliki keunggulan dimana siswa siswa diajak untuk berperan serta dalam setiap proses pembelajaran. Pada proses pembelajaran ini siswa diberi kesempatan untuk berbagi informasi secara singkat dan teratur dalam bentuk diskusi kelompok. Pembentukan kelompok dibagi dalam dua kelompok besar yaitu kelompok lingkaran kecil dan kelompok lingkaran besar. Pada saat pembelajaran berlangsung, kelompok lingkaran besar akan berpindah sesuai perputaran arah jarum jam untuk berbagi informasi dan kelompok lingkaran kecil diam di tempat. Dengan kegiatan yang dilakukan ini, selain tidak membosankan bagi siswa juga siswa akan terlibat aktif dalam diskusi.
Model pembelajaran kooperatif teknik lingkaran kecil lingkaran besar ini akan mengakibatkan terjadinya pertukaran informasi antara siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai, sehingga siswa yang kurang pandai akan menjadi lebih paham dan siswa yang pandai akan semakin bertambah pemahamannya serta penguasaan terhadap materi yang diberikan.
Model pembelajaran kooperatif teknik lingkaran kecil lingkaran besar dapat memberikan suasana baru bagi siswa karena semua siswa diikut sertakan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran ini meningkatkan keaktifan siswa sehingga termotivasi untuk belajar dengan giat. Sehingga hasil belajar yang diperoleh memuaskan dalam arti materi yang diberikan dikuasai oleh siswa.
Dari uraian diatas, peneliti merasa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif teknik lingkaran kecil lingkaran besar dapat memperbaiki proses pembelajaran  dan meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas V SDN 007 Muktijaya. Terutama pada materi sifat-sifat bangun ruang semester genap pada semester genap tahun ajaran 2010/2011.

D. RUMUSAN MASALAH 
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “apakah model pembelajaran kooperatif teknik lingkaran kecil lingkaran besar dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas V SDN 007 Muktijaya?”

E. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas V SDN 007 Muktijaya melalui pembelajaran kooperatif teknik lingkaran kecil lingkaran besar pada materi sifat-sifat bangun ruang.

F. MANFAAT PENELITIAN
             Manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
·      Bagi siswa, dengan penerapan model pembelajaran kooperatif teknik lingkaran kecil lingkaran besar diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi sifat-sifat  bangun ruang khususnya dikelas V      SDN 007 Muktijaya
·      Bagi guru, dengan diterapkan model pembelajaran kooperatif teknik lingkaran kecil lingkaran besar ini, dapat dijadikan sebagai salah satu bahan masukan dalam hal merancang model pembelajaran agar dapat mencapai hasil yang optimal.
·      Bagi Sekolah Dasar Negeri 007 Muktijaya, untuk dijadikan sebagai salah satu bahan masukan dalam rangka meningkatkan dan memperbaiki kualitas pendidikan.
4. Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan berpijak      dalam rangka menindaklanjuti penelitian dengan ruang lingkup yang lebih luas.

G. LANDASAN TEORETIS

1. Hasil Belajar Matematika

            Menurut Sudjana (2000) belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan ini dapat ditunjukkan dalam bentuk seperti pengetahuan, pemahaman, sikap dan kemampuan. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006) belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa itu sendiri, karena siswa adalah penentu terjadinya proses belajar. Menurut Slameto (2003) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Pendapat tersebut menyatakan bahwa belajar bertujuan untuk mengadakan perubahan yang dikehendaki dalam tingkah laku, ilmu pengetahuan dan keterampilan seorang siswa.
Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik (Mulyasa, 2003). Perubahan yang dikehendaki dalam penelitian ini adalah peningkatan hasil belajar matematika siswa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang dialami oleh siswa itu sendiri yang ditandai dengan adanya perubahan pada siswa tersebut  seperti pada pengetahuan, pemahaman, sikap dan kemampuannya dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Hasil belajar merupakan faktor penting dalam pendidikan. Djamarah (1994) menyatakan bahwa hasil belajar adalah hasil penilaian pendidik terhadap kemajuan siswa setelah dilakukan proses pembelajaran. Hasil belajar siswa dapat ditentukan oleh proses pembelajaran dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah sebagai berikut: (1) faktor ekstern meliputi, guru sebagai pembina siswa, sarana dan prasarana pembelajaran, kebijakan penilaian, lingkungan sosial siswa di sekolah, kurikulum sekolah. (2) faktor intern meliputi, sikap terhadap belajar, motivasi belajar, konsentrasi belajar, kemampuan mengolah bahan belajar, kemampuan menyimpan perolehan hasil belajar, kemampuan menggali hasil belajar yang tersimpan, kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar, rasa percaya diri siswa, intelegensi dan keberhasilan belajar, kebiasaan belajar, cita-cita siswa (Slameto, 2003).
Sudjana (2005) menjelaskan bahwa hasil belajar adalah suatu kemampuan yang dicapai siswa setelah melalui kegiatan belajar. Menurut Mulyasa (2004) hasil belajar merupakan prestasi belajar siswa secara keseluruhan, yang menjadi indikator kompetensi dan derajat perubahan perilaku yang bersangkutan. Kompetensi yang harus dikuasai siswa perlu dinyatakan sedemikian rupa agar dapat dinilai sebagai wujud hasil belajar siswa yang mengacu pada pengalaman langsung (Mulyasa, 2004). Dimyati dan Mudjiono (2002) menyatakan bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai dalam bentuk angka-angka atau skor setelah diberikan tes hasil belajar setiap akhir pembelajaran.
             Berdasarkan uraian teori-teori hasil belajar di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kompetensi yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya dalam bentuk angka-angka atau skor dari hasil tes setelah proses pembelajaran. Adapun hasil belajar matematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah skor yang dicapai siswa setelah belajar matematika melalui proses pembelajaran matematika dengan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Lingkaran Kecil Lingkaran Besar.

·    Pembelajaran Kooperatif
Slavin (1995) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dimana siswa dalam berkelompok kecil yang terdiri dari 4-6 siswa belajar dan bekerja secara kolaboratif, dengan struktur kelompok yang heterogen. Menurut Lie (2002) pembelajaran kooperatif merupakan sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur dan dalam hal ini guru bertindak sebagai fasilitator.
Ibrahim  (2000) mengemukakan bahwa ada 4 ciri dari pembelajaran kooperatif, yaitu : (a) siswa bekerja dalam kelompok secara  kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya, (b) kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah, (c) bila mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda, (d) penghargaan lebih berorientasi terhadap kelompok daripada individu.
Menurut Ibrahim (2000) langkah-langkah pembelajaran kooperatif terdiri dari enam fase. Adapun keenam fase tersebut disajikan dalam Tabel 2 berikut :

Tabel 2. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Fase
Tingkah laku guru
 Fase-1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase -2
Menyajikan Informasi

Guru menyampaikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase-3
Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Fase-4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase-5
Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase-6
Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

(Ibrahim, 2000)
Ibrahim (2000) menjelaskan sintaks atau langkah-langkah model pembelajaran kooperatif yang diawali dengan :
·Menyampaikan Tujuan dan Memotivasi Siswa
Guru yang berhasil memulai pelajaran dengan bahasa yang mudah dipahami, dengan menunjukkan bagaimana pelajaran itu terkait dengan pelajaran sebelumnya. Sulit bagi siswa untuk melaksanakan suatu tugas dengan baik apabila mereka belum jelas tentang mengapa mereka melakukan kegiatan itu atau apabila kriteria keberhasilan tidak diberitahukan secara terbuka.
·Menyajikan Informasi
Menyajikan informasi verbal kepada siswa dan memberikan langkah-langkah pembelajarannya. Guru pada sekolah-sekolah sering mengasumsikan siswa mereka dapat membaca dan memahami tugas yang diberikan hanya dengan menyuruh mereka membaca buku teks. Hal ini merupakan asumsi yang tidak benar. Guru yang berhasil adalah guru yang seharusnya mengasumsikan tanggung jawab untuk membantu siswa menjadi pembaca yang baik.
·Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar dan mereka mulai menangani tugas mereka merupakan satu langkah paling sulit bagi guru dalam menggunakan pembelajaran kooperatif. Cara untuk membantu mengorganisasikan kelompok belajar yaitu membantu transisi, mengelola dan membantu kerja kelompok, mengajarkan kerja sama.
·Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Kegiatan-kegiatan pembelajaran kooperatif  yang tidak rumit memungkinkan siswa menyelesaikan pekerjaan mereka dengan ikut campur atau bantuan minimum dari seorang guru. Untuk kegiatan-kegiatan pembelajaran kooperatif yang kompleks, guru mungkin perlu bekerja lebih dekat dengan tiap kelompok siswa, mengingatkan mereka akan tugas-tugas yang harus mereka kerjakan dan waktu yang disediakan untuk tiap langkah. Ada suatu aturan untuk diikuti selama fase ini dalam satu pembelajaran kooperatif. Ikut campur yang terlampau banyak atau bantuan yang tidak diinginkan dapat mengganggu siswa. Hal ini juga dapat meniadakan kesempatan siswa untuk berinisiatif dan bekerja dengan arahan diri sendiri. Pada saat yang sama, apabila guru menemukan siswa tidak jelas tentang petunjuk atau mereka tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas kelompok yang diberikan, maka guru harus melakukan intervensi dan menawarkan bantuan.
·Evaluasi
Menggunakan strategi penilaian dan evaluasi yang konsisten sangat penting, tidak hanya dengan tujuan pembelajaran suatu pelajaran tertentu melainkan juga dengan model pengajaran tertentu yang sedang digunakan. Prosedur penilaian dan evaluasi diuraikan berdasarkan pada asumsi bahwa guru itu sedang menggunakan suatu sistem penghargaan kompetitif atau individualistik. Karena model pembelajaran kooperatif bekerja dibawah struktur penghargaan kooperatif dan karena banyak pembelajaran kooperatif bertujuan untuk mencapai pembelajaran kognitif dan sosial yang kompleks, dibutuhkan pendekatan penilaian dan evaluasi yang berbeda.
·Memberikan penghargaan
Untuk menentukan penghargaan kelompok dilakukan langkah-langkah sebagai berikut.
a.   Menghitung skor individu dan kelompok
Perhitungan skor tes siswa yang ditujukan untuk menentukan nilai perkembangan siswa yang akan disumbangkan sebagai skor kelompok. Nilai perkembangan siswa dihitung berdasarkan selisih perolehan skor terdahulu (skor dasar) dengan skor tes terakhir. Dengan cara ini setiap anggota kelompok memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan sumbangan skor maksimal bagi kelompoknya. Nilai perkembangan individu dalam pembelajaran kooperatif mengacu pada kriteria yang dibuat Slavin (1995) yang terlihat pada tabel berikut:

Tabel 3. Perhitungan nilai perkembangan


No
Skor tes
Nilai
Perkembangan
1.
Lebih dari 10 point di bawah skor dasar
5
2.
10 point hingga 1 point di bawah skor dasar
10
3.
Sama dengan skor dasar sampai 10 poin di atas skor dasar
20
4.
Lebih dari 10 poin di atas skor dasar
30
5.
Nilai sempurna (tidak berdasarkan skor dasar)
30

(Slavin, 1995)


b.   Penghargaan kelompok
Slavin (1995) menyebutkan penghargaan kepada kelompok yang berprestasi diberikan berdasarkan rata-rata skor peningkatan/perkembangan dalam tiap kelompok, dengan kategori kelompok baik, kelompok hebat dan kelompok super sebagai berikut:
1.         Kelompok dengan rata-rata skor 15 sebagai kelompok baik
2.         Kelompok dengan rata-rata skor 20 sebagai kelompok hebat
3.         Kelompok dengan rata-rata skor 25 sebagai kelompok super
Slavin (1995) menyatakan bahwa guru boleh mengubah kriteria tersebut, jika  menyatakan rata-rata skor kelompok, maka dalam penelitian ini penulis membentuk kriteria penghargaan kelompok dengan cara rata-rata tertinggi setiap kelompok 30 dan rata-rata terendahnya 5 dengan rentang rata-rata 30 – 5 = 25. Galton yang dikutip oleh Suherman (1990) menyatakan bahwa dalam satu kelas dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:
·15,87 % siswa kelompok rendah.
·68,26 % siswa kelompok sedang.
·15,87 % siswa kelompok tinggi.
Berdasarkan hasil di atas, peneliti membuat interval nilai perkembangan untuk menentukan kriteria penghargaan kelompok. Untuk kelompok baik yaitu 15,87% x 25 = 3,97. Untuk kelompok hebat yaitu 68,26% x 25 = 17,06. Untuk kelompok super yaitu 15,87% x 25 = 3,97. Berdasarkan interval nilai perkembangan di atas, diperoleh kriteria penghargaan kelompok sebagai berikut:

a. , dikatakan kelompok baik.
b. , dikatakan kelompok hebat.
c. , dikatakan kelompok super.


3. Teknik Pembelajaran Lingkaran Kecil Lingkaran Besar
            Lie (2008) berpendapat bahwa teknik pembelajaran lingkaran kecil lingkaran besar memberikan kesempatan kepada siswa agar saling berbagi informasi dengan pada saat bersamaan. Teknik pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk berbagi dengan kelompok yang berbeda dengan singkat dan teratur. Selain itu, terjadi kerja sama antar siswa dalam suasana gotong royong dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi yang menimbulkan keadaan aktif. Teknik pembelajaran lingkaran kecil lingkaran besar terdiri dari kelompok-kelompok kecil. Pembagian kelompok ini dilakukan sebelum proses pembelajaran dimana kelompok akan membentuk kelompok lingkaran kecil dan sebagian lagi akan membentuk kelompok lingkaran besar.
            Ilustrasi teknik pembelajaran lingkaran kecil lingkaran besar dapat dilihat pada gambar berikut:








C

Gambar 1. Ilustrasi pembelajaran Lingkaran Kecil Lingkaran Besar

            Kelompok A, B, C, dan D adalah kelompok lingkaran besar, sedangkan kelompok E, F, G dan H adalah kelompok lingkaran kecil.
            Menurut Lie ( 2008 ) pembelajaran kooperatif teknik Lingkaran Kecil Lingkaran Besar memiliki beberapa langkah. Adapun langkahnya adalah sebagai berikut :
·      Separuh kelas ( atau seperempat jika jumlah siswa terlalu banyak )  membentuk lingkaran menghadap keluar. Kelompok ini disebut kelompok lingkaran kecil.
·      Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran diluar kelompok lingkaran kecil disebut kelompok lingkaran besar. Mereka menghadap kedalam dan berpasangan dengan kelompok liingkaran kecil.
·      Dua kelompok yang berpasangan dari lingkaran kecil dan lingkaran besar berbagi informasi.  Siswa yang berada dilingkaran kecil yang memulai.          Pertukaran informasi ini bisa dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu    yang    bersamaan.
·      Kemudian, siswa yang berada di lingkaran besar diam ditempat, sementara siswa yang berada dilingkaran kecil berpindah searah jarum jam. Dengan cara ini, masing-masing kelompok mendapatkan            pasangan yang baru untuk berbagi.
·      Sekarang giliran kelompok yang berada dilingkaran besar yang membagikan informasi.  Demikian seterusnya. 
            Perpindahan yang dilakukan pada proses pembelajaran ini bertujuan agar masing-masing kelompok dapat berbagi informasi dengan kelompok lain dan melatih keterampilan siswa dalam berkomunikasi. Perpindahan dilakukan setelah siswa mampu menyelesaikan tugas yang diberikan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Perpindahan pada proses pembelajaran ini dilakukan oleh kelompok lingkaran besar untuk menghemat waktu serta mempermudah proses pergeseran.
            Sebelum memulai pembelajaran terlebih dahulu dirancang kelompok-kelompok kecil. Jumlah anggota dalam setiap kelompok kooperatif adalah 4-5 orang. Kelompok yang dibentuk ini bersifat heterogen secara akademik yang terdiri dari siswa pandai, sedang dan kurang.
            Berdasarkan teori yang dikemukakan Lie diatas, maka pelaksanaan model pembelajaran kooperatif teknik lingkaran kecil dan lingkaran besar yang telah disesuaikan dengan kebutuhan kelas adalah :
1. Separuh kelas membentuk lingkaran menghadap keluar lingkaran, disebut kelompok lingkaran kecil.
2.  Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran diluar kelompok lingkaran kecil, disebut kelompok lingkaran besar. Mereka menghadap ke dalam dan berpapasan dengan kelompok lingkaran kecil.
3.  Dua kelompok yang berpasangan dari kelompok lingkaran besar dan lingkaran kecil berdiskusi untuk membahas lembar kerja siswa (LKS).
4.   Diskusi ini dilakukan oleh pasangan dalam waktu yang bersamaan.
5.   Kemudian, kelompok yang berada dilingkaran besar diam ditempat, sementara itu, kelompok yang berada dilingkaran kecil berpindah searah jarum jam.
6.   Dengan cara ini, masing-masing kelompok mendapat pasangan yang baru untuk berbagi.
7.   Demikian seterusnya, kelompok dilingkaran kecil terus berpindah sampai mereka kembali kekelompok semula. Pada posisi ini, setiap kelompok berdiskusi kembali untuk mengambil keputusan akhir dari jawaban LKS.
8.   Guru memerintah salah satu siswa dari setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya didepan kelas
9.   Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya.

4. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Lingkaran kecil Lingkaran Besar

 Pembelajaran kooperatif teknik Lingkaran kecil lingkaran besar dalam penelitian ini dilaksanakan dengan cara mengintegrasikan teknik Lingkaran kecil lingkaran besar  kedalam pembelajaran kooperatif. Dengan demikian langkah-langkahnya sebagai berikut:
Tabel 4 : Langkah-langkah Penerapan model Pembelajaran Kooperatif Teknik Lingkaran Kecil Lingkaran Besar

No
Tahap
Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran
Alokasi
Waktu
1




2

























































3






4







5
Pendahuluan




Kegiatan Inti

























































Penutup






Evaluasi







Penghargaan Kelompok (*)
·Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
·Guru memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar

·     Guru menyampaikan informasi tentang penerapan pembelajaran kooperatif dengan teknik lingkaran kecil lingkaran besar.
·     Guru mengkondisikan siswa untuk duduk ditempat duduk yang telah ditentukan dan membagikan LKS kepada siswa. Siswa duduk di kelompok belajar yang telah ditentukan dan menerima LKS yang diberikan guru.
·     Setiap anggota kelompok berdiskusi dalam kelompok masing-masing untuk menyelesaikan LKS yang diberikan guru. Siswa boleh bertanya kepada guru jika membutuhkan bimbingan dalam menyelesaikan LKS.
Guru mengawasi dan membimbing siswa dalam menyelesaikan LKS bagi siswa yang membutuhkan bimbingan.
·     Dua kelompok yang berpapasan dari kelompok lingkaran kecil dan lingkaran besar saling bertukar informasi. Mereka berdiskusi mengenai jawaban LKS yang telah dikerjakan dikelompok masing-masing. Kegiatan ini dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu yang bersamaan.
Guru membimbing dan mengawasi siswa saat terjadinya diskusi antar pasangan kelompok.
·     Kelompok yang berada dilingkaran besar diam ditempat, sementara  itu yang berada dilingkaran kecil berpindah searah jarum jam. Dengan cara ini masing-masing kelompok mendapat pasangan yang baru untuk berdiskusi dan bertukar informasi. Demikian seterusnya, kelompok dilingkaran kecil berputar sampai kembali keposisinya semula
Guru membimbing dan mengawasi siswa saat terjadinya perpindahan dan diskusi antar kelompok.
·     Setelah kelompok yang dilingkaran kecil kembali keposisi semula maka pada posisi ini setiap kelompok berdiskusi kembali untuk mengambil keputusan akhir dari jawaban LKS.
Guru mengawasi siswa saat terjadinya perpindahan dan diskusi masing-masing kelompok untuk memutuskan jawaban akhir LKS.


·     Guru memerintah salah satu siswa dari setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya didepan kelas.

·     Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan materi pelajaran yang telah dipelajari.
·     Guru memberikan tes formatif
·     Guru memberikan tugas mandiri / PR untuk dikerjakan di rumah.

·     Setelah tiga kali pertemuan, guru mengadakan evaluasi dengan cara melaksanakan ulangan harian. Ulangan harian dikerjakan secara individu oleh siswa. Ulangan harian dilakukan sebanyak 2 kali yaitu ulangan harian I dan ulangan harian II.

·     Guru memberikan penghargaan kelompok berdasarkan kriteria penghargaan kelompok pada pembelajaran kooperatif

10 menit




5menit



5 menit






5 menit








5 menit










15 menit











5 menit










10 menit



10 menit




Catatan:
(*)  = Penghargaan kelompok diberikan setelah siswa melakukan ulangan harian I dan ulangan harian II.


5.  Hubungan Pembelajaran Kooperatif Teknik Lingkaran Kecil Lingkaran  Besar dengan hasil belajar matematika

Penerapan Pembelajaran Kooperatif teknik lingkaran kecil lingkaran besar merupakan pembelajaran yang menuntut siswa untuk lebih aktif berdiskusi dan berkomunikasi. Dengan adanya tuntutan siswa untuk lebih aktif berdiskusi dan memecahkan masalah sendiri maka siswa diharapkan lebih dapat menguasai materi pelajaran tersebut. Penerapan pembelajaran kooperatif teknik lingkaran kecil lingkaran besar dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur.
Pada saat kegiatan kelompok, terjadi interaksi siswa dengan siswa dalam kelompok untuk mengeluarkan dan menyatukan ide-idenya yang dapat memacu terbentuknya ide-ide baru yang akan memperkaya perkembangan intelektual siswa. Dengan adanya interaksi seperti ini diharapkan masing-masing kelompok saling berbagi dan bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dalam menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi.
Semakin banyak aktivitas yang dilakukan, pemahaman siswa semakin bertambah. Jika pemahaman siswa bertambah maka hasil belajar akan meningkat. Selain itu, pada akhir pembelajaran siswa dituntut untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya, bila siswa dapat mempresentasikan hasilnya dengan baik, maka dapat dikatakan bahwa siswa mengerti dengan materi tersebut. Jika siswa sudah mencapai tahap ini maka siswa dapat mengerjakan soal-soal tes belajar dengan baik, dengan demikian hasil belajar siswa meningkat. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan pembelajaran kooperatif teknik lingkaran kecil lingkaran besar diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

H. HIPOTESIS TINDAKAN
            Hipotesis tindakan dalam penelitan ini adalah jika diterapkan pembelajaran kooperatif teknik lingkaran kecil lingkaran besar dalam proses pembelajaran matematika pada materi pokok bangun ruang  maka dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas V SDN 007 Muktijaya pada semester genap tahun ajaran 2010 / 2011.
I.   METODE PENELITIAN

1. Tempat dan Waktu Penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan di  SDN 007 Muktijaya  pada semester genap tahun ajaran 2010 / 2011 bulan Mei – Juni 2011.

2. Bentuk Penelitian
             Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas kolaboratif. Penelitian tidakan kelas adalah penelitian tindakan yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki dan meningkatkan mutu praktek pembelajaran di kelasnya (Arikunto, 2008). Pelaksanaan dilakukan oleh peneliti sendiri, sedangkan guru kelas IV SDN 007 Muktijaya sebagai pengamat selama proses pembelajaran. Tindakan dalam penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif teknik lingkaran kecil lingkaran besar.
             Adapun tahap-tahap penelitian tindakan kelas menurut Arikunto (2008) adalah sebagai berikut:
Pelaksanaan
Perencanaan

Refleksi
SIKLUS I

Pengamatan

Perencanaan

SIKLUS II
Refleksi

Pelaksanaan

Pengamatan

           
              Gambar 2. Bagan Siklus Penelitian Tindakan Kelas
Masing-masing komponen pada siklus dalam penelitian ini berisikan sebagai berikut:
·Refleksi awal
Tahap pertama dimulai dengan refleksi awal yang telah dikemukakan pada latar belakang. Hasil refleksi awal menunjukkan bahwa pada saat latihan masih ada siswa yang malas untuk mengerjakannya. Guna refleksi awal ini sebagai acuan untuk merencanakan siklus I.
·Perencanaan
Pada tahap ini peneliti merencanakan perangkat pembelajaran yang sesuai dengan pembelajaran kooperatif teknik lingkaran kecil lingkaran besar. Sehubungan dengan itu, peneliti merancang perangkat pembelajaran seperti silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, lembar kerja siswa, mempersiapkan tes hasil belajar dan mempersiapkan lembar pengamatan.
·Pelaksanaan
Pada tahap ini peneliti melaksanakan tindakan dengan menerapkan pembelajaran kooperatif teknik lingkaran kecil lingkaran besar. Selama proses pembelajaran siswa dikelompokkan sesuai dengan model pembelajaran kooperatif teknik lingkaran kecil lingkaran besar.
·Pengamatan
Pada tahap ini peneliti melakukan pengamatan. Pengamatan dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan, agar dapat melihat tindakan apa saja yang harus diperbaiki dalam pelaksanaan proses pembelajaran kooperatif teknik lingkaran kecil lingkaran besar. Proses pengamatan dilakukan oleh guru yang bekerjasama dalam penelitian ini.
·Refleksi
Tahap yang terakhir adalah refleksi hasil tindakan. Pada kegiatan ini peneliti mencoba melihat kembali terhadap tindakan yang telah dilakukan dan dampaknya bagi proses belajar siswa. Dengan cara ini peneliti bisa mengetahui kelemahan dan keunggulan dari tindakan yang telah dilakukan
Penelitian ini direncanakan dua siklus. Siklus pertama terdiri dari tiga kali pertemuan dan diakhiri dengan ulangan harian I. Melalui lembar pengamatan pada siklus pertama akan terlihat kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran. Kekurangan-kekurangan tersebut kemudian direfleksi untuk diperbaiki pada proses pembelajaran di siklus kedua. Pada siklus kedua ada tiga kali pertemuan dan satu kali ulangan harian II.

3. Subjek penelitian
             Subjek penelitian ini adalah siswa-siswa kelas V SDN 007 Muktijaya Tahun 2010/2011 yang berjumlah 36 orang yang terdiri dari 16 siswa perempuan dan 20 siswa laki-laki dengan kemampuan yang heterogen.

·Instumen Penelitian
            Agar penelitian ini dapat dilaksanakan dengan baik maka perlu dipersiapkan instrumen penelitian dengan baik. Adapun instrumen penelitian yang perlu dipersiapkan adalah :
a.   Perangkat pembelajaran
             Perangkat pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran ini terdiri dari           silabus dan sistem penilaian, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa.
1.     Silabus dan sistem penilaian
            Silabus dan sistem penilaian merupakan penjabaran dari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang bertujuan agar peneliti mempunyai acuan yang jelas dalam melaksanakan tindakan dan disusun berdasarkan prinsip yang berorientasi pada kompetensi. Berdasarkan prinsip tersebut maka silabus dan sistem penilaian mata pelajaran matematika meliputi : Identitas sekolah, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Materi pokok, Kegiatan Pembelajaran, Indikator, Penilaian yang terdiri dari jenis tagihan, bentuk instrumen dan contoh instrumen, serta alokasi waktu dan sumber belajar.
2.     Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
             Rencana Pelaksanaan Pembelajaran disusun secara sistematis yang berisi : standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, indikator, model dan metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran yang memuat kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Rencana pelaksanaan pembelajaran  ini berfungsi sebagai acuan peneliti dalam melaksanakan satu kali proses pembelajaran atau lebih. Tujuannya agar proses        pembelajaran berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan silabus yang   telah disusun. 
3.     Lembar Kerja Siswa (LKS)
             Lembar kerja siswa memuat indikator, tugas dan langkah-langkah yang harus dikerjakan dalam menyelesaikan masalah yang dikembangkan dalam membangun pengalamannya.
b.    Instumen pengumpulan data
Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data tentang aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran, serta data tentang hasil belajar matematika siswa setelah proses pembelajaran.
1.   Lembar Pengamatan
Data tentang aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran dikumpulkan dengan menggunakan lembar pengamatan. Aktivitas guru yang diamati antara lain menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, memotivasi siswa, memberikan informasi tentang materi yang akan dipelajari, membagikan LKS kepada setiap siswa, mengorganisasikan siswa kedalam kelompok belajar, mengawasi dan mengarahkan siswa yang kurang memahami soal, meminta siswa membahas LKS secara berkelompok, membimbing siswa dalam diskusi kelompok, mengevaluasi jawaban soal yang masih rancu dan bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari.
2.           Tes Hasil Belajar Matematika
Data hasil belajar matematika siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes hasil belajar pada materi sifat-sifat bangun ruang, perangkat tes hasil belajar tersebut berupa kisi-kisi penulisan soal, naskah soal, kunci jawaban. Kisi-kisi penulisan soal memuat kompetensi dasar, materi pokok, uraian materi pokok, indicator soal, nomor soal serta skor dari masing-masing soal. Ulangan harian terdiri dari ulangan harian I dan ulangan harian II.


5. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data ini terdiri dari dua teknik:
      1.    Teknik observasi
Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan lembar pengamatan. Pengamatan dilakukan pengamat, pengamat mengisi  lembar pengamatan tentang aktifitas siswa dan guru yang telah disediakan pada tiap pertemuan. Wardani (2002) menyatakan bahwa lembar pengamatan hendaknya dapat menampung semua kegiatan real yang terjadi dalam kelas. Pengisian lembar pengamatan dilakukan dengan cara menuliskan hasil pengamatan berupa kritik maupun saran terhadap gambaran sebenarnya di kelas.
   2.   Teknik tes
Tes hasil belajar matematika siswa dikumpulkan dengan melakukan ulangan harian pada materi pokok sifat-sifat bangun ruang. Ulangan harian dilakukan sebanyak dua kali yaitu ulangan harian I dan ulangan harian II.

6. Teknik Analisis Data
             Data yang sudah diperoleh melalui lembar pengamatan maupun tes hasil belajar matematika kemudian dianalisis. Teknik analisis data yang akan digunakan adalah analisis statistik deskriptif. Statistik deskriptif bertujuan untuk menggambarkan data yang terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku umum (Sugiyono, 2007). Analisis data tentang aktivitas siswa dan guru didasarkan dari lembar pengamatan selama proses pembelajaran, dimana untuk melihat kesesuaian antara perencanaan dengan pelaksanaan tindakan. Pelaksanaan tindakan dikatakan sesuai jika aktivitas dalam proses pembelajaran kooperatif teknik Lingkaran kecil lingkaran besar terlaksana sebagaimana mestinya.
1.   Analisis Data Aktivitas Guru dan Siswa
Analisis data tentang aktivitas siswa dan guru didasarkan dari hasil lembar pengamatan selama proses pembelajaran. Pada lembar pengamatan akan tampak kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh guru pada saat menerapkan pembelajaran. Kekurangan-kekurangan tersebut akan direfleksi oleh guru atau peneliti. Hasil dari refleksi ini dapat dijadikan sebagai langkah untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan pada siklus pertama dan merencanakan tindakan baru pada siklus II.
2.   Analisis Data Penghargaan Kelompok
Analisis data penghargaan kelompok dapat dilakukan dengan menentukan nilai perkembangan siswa yang diperoleh dari selisih skor dasar dengan skor tes hasil belajar matematika setelah penerapan model pembelajaran kooperatif teknik Lingkaran Kecil Lingkaran Besar. Selisih skor yang diperoleh anggota kelompok disesuaikan dengan nilai perkembangan individu yang berpedoman pada tabel 3 halaman 12.
Skor dihitung berdasarkan rata-rata nilai perkembangan yang disumbangkan oleh anggota kelompok. Rata-rata dari setiap nilai perkembangan individu disebut skor kelompok dan dilambangkan dengan . Penghargaan kelompok disesuaikan dengan kreteria penghargaan kelompok.
3.   Ketercapaian KKM Indikator
Ulangan harian I dan ulangan harian II dianalisis setiap indikatornya untuk mengetahui ketercapaian KKM 60 pada setiap indikator. Ketercapaian KKM 60 pada setiap indikator dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Ketercapaian indikator =
Keterangan :      = Skor indikator yang diperoleh
                        = Skor maksimum
4.   Keberhasilan Tindakan
Peningkatan hasil belajar siswa dilihat dari nilai awal, ulangan harian I dan ulangan harian II. Nilai ulangan harian I dan ulangan harian II dianalisis setiap indikatornya untuk mengetahui ketercapaian KKM yang ditetapkan. Berdasarkan KKM yang ditetapkan di SDN 007 Muktijaya yaitu 60.
Menurut Suyanto (1997), apabila skor hasil belajar siswa setelah tindakan lebih baik daripada sebelum tindakan, maka dapat dikatakan bahwa tindakan berhasil, akan tetapi jika tidak ada bedanya dan bahkan lebih buruk maka tindakan belum berhasil. Dengan kata lain jika tindakan berhasil maka hasil belajar siswa meningkat. Berdasarkan kutipan diatas hasil belajar matematika siswa meningkat jika terdapat skor hasil belajar kearah yang lebih baik setelah tindakan.








DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi., 2008,Penelitian Tindakan Kelas, Bumi Aksara, Jakarta.
Depdiknas., 2006, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas, Jakarta.
Dimyati dan Mudjiono, 2002, Belajar dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta.
Dimyati dan Mudjiono., 2006, Belajar dan pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta.
Djamarah., 1994, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, Usaha Nasional, Surabaya.
Ibrahim, Muslim., 2000, Pembelajaran Kooperatif, Unesa-University Press,      Surabaya.
Lie, Anita., 2002, Cooperatif Learning, mempraktekkan kooperatif learning diruang-ruang kelas, Grasindo, Jakarta.
Lie, Anita., 2008, Cooperatif Learning, mempraktekkan kooperatif learning diruang-ruang kelas, Grasindo, Jakarta.
Mulyasa, E ., 2005, Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK, Remaja Rosdakarya, Bandung.
Slameto., 2003, Belajar dan faktor-faktor yang Mempengaruhinya, PT.Rineka Cipta, Jakarta.
Slavin, R., 1995, Cooperatif Learning Theory Research and Practice, Boston Ally and Bacon.
Sudjana, Nana., 2000, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru algensindo. Bandung.
Sudjana, Nana., 2004, Penilaian Hasil Belajar Mengajar, Rosdakarya, Bandung.
Sugiyono, 2007, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R &D, Alfabeta, Bandung.
Suyanto, 1997, Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas, Dikti Depdiknas, Yogyakarta.
Wardani, 2002, Penelitin Tindakan Kelas, Pusat penelitian Universitas Terbuka, Jakarta.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar